dantepituruh4

Pituruh, nama sebuah kota kecamatan di Kabupaten Purworejo. Posisi geografisnya sedikit masuk ke arah utara dari lintas raya Purworejo-Kebumen Jawa Tengah, tepatnya Klepu, Butuh. Jika naik angkutan 5000an pun masih ada sisa kembalian. Tak banyak disangka jika semangat anak-anak mudanya yang juga penyuka musik, gemar berkomunitas, bisa saling menyemangati satu sama lain.

Satu contoh yang terjadi di minggu pertama musim lebaran tahun lalu. Seiring dengan musim mudik raya ini, diadakanlah Parade Band Pituruh. Ini boleh dibilang kegiatan musik yang pertama, yang direncanakan secara terpadu antar banyak elemen yang sementara ini tercecer, beraktivitas sendiri-sendiri di jalurnya masing-masing.

Satu yang membanggakan, dengan publikasi minimalis, ternyata animo anak-anak band di Purworejo dan sekitarnya membludak. Wajar memang, karena untuk main di panggung sangat sempit kesempatannya, apalagi kelas-kelas pertunjukan di tingkat kecamatan, non festival atau lomba, tapi dengan perencanaan sajian yang serius dan berkelanjutan. Sekadar membantu mendokumentasikan, sebutlah nama-nama semacam: Empire, Dendam Kesumat, Panglima, Neon, Ocean, Network, Loudspek, Al Broenoeny, H2R, Mika, Resifa, Platinum, Dante, Crazy on The Street, PD Band, D’Junkiz, De Facto, Remote, Delta, Fancy, Bintang Tamu dan Simokithu tercatat sebagai sekian artis band penampil. Masih ada nama-nama yang terpaksa ditolak, karena waktu sehari tidaklah cukup! Bahkan untuk tampil, mereka juga musti rela berbagi biaya sewa property yang dibutuhkan. Jangan bayangkan dari even ini akan mendapatkan track-track demo CD mereka saat itu. Tanpa bermaksud meremehkan, ini acara yang memang didesain untuk bersilaturahmi, mengedepankan karya-karya musik musisi lokal yang belum sempat dikemas secara professional, menguji ketepatan momen dan ketersediaan sumber daya yang ada untuk peyelenggaraan sebuah even musik walaupun di kota kecamatan yang secara geografis puluhan kilometer dari pusat kota kabupaten! Ini akan membuktikan, bahwa sebuah karya kreatif boleh dan sah-sah saja berembrio di manapun. Keterbatasan untuk mengatasi kendala seorang diri, agaknya juga usang untuk jaman kekinian, karena berbagi tugas dan potensi kemampuan lebih diyakini memberi hasil lebih baik.

Sejak minggu-minggu terakhir sebelum hari H, Trio dan Thomas, dua dari sekian panitia inti yang mengorganisir even berkali-kali menjelaskan, kekuatiran jadi tidaknya even itu terus dicari solusinya. Mulai dari sound system, panggung, penyemarak even, hadiah kuis panggung, hingga jumlah penonton yang memadai untuk sekaligus bersilaturahmi antar warga satu kecamatan. Tentang venue, segede lapangan bola, tentang tenda, bisa secukup tamu undangan, tentang perencanaan dan publikasi penyelenggaraan acara, ada z104 Production sebagai teman diskusi mencipta solusi.

Benar saja, satu persatu kendala bisa diatasi, bahkan dengan banyak dukungan pihak-pihak lain yang selama ini masih menunggu ketegasan dan pemaknaan sebuah proposal awal!

Sebuah mobil yang didesain panggung musik dukungan salah satu dealer resmi sepeda motor kenamaan menjadikan pembeda even yang cukup menarik. Tinggal menambah sedikit area untuk atraksi panggung. Layanan jasa sewa sound system plus alat musik juga dipilih ketimbang menggunakan milik sendiri dengan alasan kualitas. Salah satu dealer resmi kartu seluler juga mendukung banyak satuan hadiah untuk kuis panggung. Demikian juga spanduk dan umbul-umbul penyemarak cukup memberi warna dan nuansa meriah. Akan halnya penonton yang datang, silih berganti seiring band-band yang didukungnya, karena banyak di antaranya teman-teman sekomunitas yang datang dan pergi ke venue bersamaan.

Yang juga cukup menarik, selama acara berlangsung, ditampilkan 4 MC (pembawa acara) sekaligus, yang juga pembawa acara z104 IndieLife, acara radio lokal yang memberi ruang penuh untuk track-track indie dan karya-karya musik musisi lokal Purworejo dan kota-kota sekitarnya. DJ Didi, DJ Toto, DJ Kiki dan DJ Unun silih berganti membangun suasana yang tadinya adem ayem menjadi gelegar gemuruh. Masak iya, acara musik di lapangan bola dan ngerock tanpa tepuk tangan dan teriak. Nggak lucu kaaan?

Memaksimalkan panggung yang minim luasan, ternyata bisa dikembangkan dengan menambah area penonton dan jalan sekitar. Gaya reportase dan wawancara singkat komentar penonton menjadikan pengalaman baru banyak penonton. Konteks acara panggung yang dibumbui dan diramu ala sajian radio juga membangkitkan emosi dan kepenasaran pendengar sebelumnya. Ini penampilan z104 deejay crew yang kedua setelah tampil di Evolution #0 di Kaligesing musim tujuhbelasan lalu.

Jikalau saja ada yang kemudian mencibir atau mengkritisi serius even seperti ini akan seberapa jauh bermanfaat untuk generasi muda, mungkin ada baiknya merunut dari sebuah niat baik, semangat kemandirian, mau berupaya secara nyata, bertindak tangkas mencari solusi, mengajak elewmen-elemen potensial yang selalu berpikir positif dan berniat berkembang untuk maju. Tiada keliru memaknai setiap tahap aktivitas sebagai arena pembelajaran. Esok diniatkan untuk lebih baik!

Sebuah dokumentasi dari even tersebut, layak dibilang bukanlah sebuah foto atau gambar, bukanlah rekaman atau pendeskripsian suasana even, tapi lebih dari itu, nilai-nilai positif apapun yang bisa “menjiwai 7 turunan” alias bersemayam di hati siapapun yang terlibat, untuk selalu ditebarkan kembali kepositivan itu ke titik yang tepat.

Jika kita lihat, mungkin rentang 3 bulan ke depan perlu persiapan yang lebih masak untuk menggas even untuk kali yang kedua. Baiklah, kita tunggu![djdd/djnn/z104]

Iklan